Tampilkan postingan dengan label Matic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matic. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2009

Tips kabel spido matic

Bisa Pakai Punya Bebek

417kabel-spidometer-yudi-1.jpgKabel spidometer skubek putus, proses penggantiannya memang nggak terlalu sulit. Meski harus bongkar batok lampu serta tebeng depan (gbr. 1). Nah, persoalannya apakah kabel itu mudah ditemui di bengkel umum atau toko onderdil?

“Nggak usah khawatir. Meski terkadang susah dicari, bisa kok memanfaatkan kabel spidometer varian lain selama masih satu merek (gbr. 2),” ujar Sugeng Mariantoni dari Cineng Motor di Jl. HOS. Cokroaminoto, No. 8C. Kreo Ciledug, Tangerang.
418kabel-spidometer-yudi-2.jpg
Ambil contoh Suzuki Spin 125 dan Skywave 125 yang kata orang paling sudah dicari part-nya. Tapi kata Sugeng nggak juga. Sebab kabel spido Suzuki Smash bisa kok dimaanfaatkan sebagai pengganti. Apalagi kepala kabel atas dan bawah, juga punya panjang yang sama persis.

Selain dua tunggangan tadi, penunggang Yamaha Mio dan Nouvo juga bisa manfaatkan varian lain. Misal Nouvo bisa pakai punya F1Z-R, sementara Mio silakan beli punya Jupiter-Z. “Memang sih harga kabel spido Jupi-Z sedikit lebih mahal. Tapi kalau buat darurat nggak jadi soal,” lanjut Sugeng.

Penunggang Honda Vario dan BeAT yang terbilang masih baru itu pun nggak perlu takut. Soale, selain keduanya bisa saling tukar, kabel spido New Supra Fit-X yang memiliki dimensi bentuk sama bisa juga dimanfaatkan.

Silakan buktikan.

Tips kepet Spin 125

Bikin Kepet, Yuk!

1873kepet-skubek---endro-1.jpgRoda belakang skubek menghadap langsung ke mesin. Jika melibas kubangan, kotoran bakal langsung hinggap di dapur pacu. Parahnya, beberapa skubek tidak dilengkapi kepet penahan cipratan air. Sehingga mesin tampak kotor dan proses pendingin jadi sedikit terganggu.1874kepet-skubek---endro-2.jpg

Contohnya tumpukan kerak tebal sering terlihat di Suzuki Spin 125. Kebetulan skubek ini tidak dilengkapi kepet, sehingga si pemilik agak kesulitan saat mencuci atau mengusir kotoran di crankcase yang menyatu dengan rumah CVT.

Daripada sebal terus lihat kondisi ini, Chepy mekanik RMK Cute kasih saran untuk menambah atau bikin kepet (gbr. 1). “Bahan bisa pakai kepet motor lain atau dari karet ban dalam mobil. Pokoknya jangan kaku supaya nggak mentok juga tidak bergesek,” wantinya.

1875kepet-skubek---endro-3.jpgSelain kepet, bahan lainnya mur-baut kecil dan pendek berkepala obeng plus. Tidak lupa juga minta ring penahan baut agar kepet terikat baik. Atau mau simpel, cable tie ukuran kecil juga bisa dimanfaatkan (gbr.2).

Kalau sudah komplet, selajutnya bikin lubang kecil seukuran baut. Posisi di ujung depan sepatbor belakang pakai mata bor. Begitu juga dengan kepet (gbr.3). “Cuma biar enak dilihat, kepet dibentuk dulu sesuai kebutuhan ruang,” imbuh warga Jl. Kebalen 3, Poncol, Jakarta Selatan.

Baru deh kepet modif dipasang. Di Spin 125, pasang kepet dari dalam atau dekat ke mesin. Sebab di posisi itu paling aman gesekan dan safe dari cipratan. Oke cuuuy...

Tips Bore up Irit matic

Bore up Irit

1909hal13_tips_pilihkarbu_boyo_.jpgKelar bore up, skubeker biasanya mengganti karburator dengan tipe skep manual dan berventuri besar. Lantaran karbu orisinal tipe vakum diklaim kurang mumpuni terutama di akselarasi.

Namun yang jadi masalah, penggantian karbu CV dengan tipe manual dan berdiameter besar kerap menuai kendala. Itu sering terjadi pada mesin motor skubek milik awam. namanya awam, tentu tidak paham akan kinerja mesin dan tipikal tipe karbu itu sendiri. Padahal maksud dari penerapan karbu CV di skubek standar atau tunggangan lain, tujuannya agar suplai bensin ke ruang bakar lebih efesian.

Lantaran dapur paculah yang mengontrol penuh permintaan bahan bakar lewat sistem vakum. “Maksudnya semakin besar tekanan di ruang bakar, makin banyak adonan gas bakar tersedot mesin. Dan semakin kuat sedotannya, semburan bensin dari spuyer juga 191002-hal13_tips_pilihkarbu_bo.jpgtambah banyak. Sedang buka-tutup grip gas cuma pemancing, selebihnya membran karet karbu sebagai pengatur otomatis. Makanya bisa irit,” beber Doran Satria mekanik bengkel C-Dov-DR.Tech.

Artinya kalau sobat ingin pakai karbu vakum di mesin skubek bore up tidak ada masalah. Apalagi kalau tujunnya untuk efesiensi gas bakar tanpa mengorbankan tenaga yang ada. Sehingga pengunaan karbu manual tidaak lagi vital buat skubek yang sudah diubah mesinnya.

Cuma karena penggantian karbu sangat tergantung dari kebutuhan mesin. Skubekker pun harus pintar memilih ukuran diameter karbu vakum yang sesuai dengan perubahan yang tejadi di ruang bakar. Sehingga kebutuhan akan gas bakar yang dihisap tidak kekurangan.

191103-hal13_tips_pilihkarbu_bo.jpgSalah satu contoh, bila liner silinder Honda BeAT atau Vario dibore up pakai piston diameter di atas 52 mm. “Jika ingin ganti dari karbu asli vakum Keihin VK22, bisa comot karbu CV punya Kawak Kaze ZX atau Yamaha Mio. Kebetulan keduanya semerek dan berukuran sama yaitu Keihin NCV24,” timpal Aris FMC mekanik Matic’s Center.

Sama halnya jika Yamaha Mio pengguna karbu CV Mikuni NCV24 sudah dibore up pakai piston diameter di atas 57 mm sampai 65 mm. Agar asupan gas bakar tidak kekurangan, pilihannya bisa pakai karbu Nouvo Mikuni BS25 atau punya Satria F-150, Spin 125, Skywave 125 dan Thunder 125 bermerek Mikuni BS26.

Sementara jika belum puas pakai 4309388ukuran 26 mm, pilihan lain masih ada. Tentunya memiliki diameter venturi lebih besar. “Seperti Mikuni BS29 punya Bajaj Pulsar 180 DTS-i, Mikuni BS30 milik Yamaha Scorpio atau Mikuni BSR32 di tunggangan Thunder 250,” ujar Aris di Jl. Fatmawati, No. 24D, Jakarta Selatan. Dan yang terpenting kata Aris lagi, pilih ukuran karbu jangan sampai jadi mubazir.

INTAKE DAN PIPA KABEL SESUAI
191204-hal13_tips_pilihkarbu_bo.jpg
Tidak jauh beda dengan karburator manual, karbu tipe CV juga wajib diseting ketika terjadi ubahan di sektor mesin. Baik itu cuma ganti knalpot atau sampai bore up liner silinder.

“Kalau cuma ganti knalpot racing cukup setel air pilot screw dan pilot-jet jika diperlukan. Tapi kalau sampai bore up, selain pilot-jet dan air pilot screw, main-jet juga perlu penyesuaian sampai hasil pembakarannya
ideal,” imbuh Doran yang praktik di Jl. Kahfi I, Kp. Setu, Ciganjur-Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Selain seting spuyer, pastikan juga intake manifold sepadan dengan bodi karbu, terutama jika lakukan penggantian ukuran karbu berventuri kecil ke yang lebih besar.

Tujuanya agar aliran gas bakar di lubang venturi tidak bocor dan debitnya tidak kekurangan atau terjadi turbulensi akibat banyak tekukan diseputar sambungan antara bodi dan intake itu sendiri.

Selain itu, pastikan juga posisi adaptor pipa alur kabel gas dari grip gas sudah pada tempatnya. Terutama jika terajadi perubahan karbu higga membuat posisi per katup berubah posisi.

VAKUM UNTUK SKUBEK

Skubek harus menggunakan karburator vakum. Mampu menakar bahan bakar secara presisi sesuai jumlah udara yang masuk ke dalam silinder. Apalagi mesin skubek cenderung bergasing tinggi supaya bisa memutar CVT. Makin deras saja kucuran bahan bakarnya.

Jika skubek dipaksa menggunakan karbu skep manual yang ditarik langsung, cenderung boros. Kejadian ini pernah dialami Em-Plus. Ketika itu karbu vakum Kymco Matica 125 tidak bisa menyemburkan bensin.

Honda Vario 2007 (Jakarta)

165 cc = Pas Buat Harian

1253vario-dvd-1.jpgTenaga standar Honda Vario, dirasa kurang memenuhi keinginan Harry Widianto buat menemaninya beraktivitas. Maka itu, pemuda yang juga Mahasiswa Universitas Moestopo ini bela-belain bore up skubek Honda miliknya.

“Yah, hasilnya lumayan! Jadi kalau ada skubek bore up harian merek lain, kan bisa ngimbangin,” ujar Harry yang akrab dipanggil Kodok ini. Oh, jadi gitu toh! Ya, alasan kenapa power standar Vario dirasa kurang. Bisa aja nih Mas Harry kasih alasan! He..he..he...

Lanjut! Bicara soal bore up, Vario punya kendala di situ! Artinya, nggak gampang untuk memperbesar diameter piston. Ya! Macam Yamaha Mio sih bisa dijejali piston hingga 72 mm.
1254vario-dvd-2.jpg
Sedang Vario, paling mentok pakai piston 58 mm. Itu pun, sepertinya sudah maksimal buat bore up di skubek Agnes Monica ini. Maklum! Kan Vario dilengkapi pendingin liquid alias radiator. Pastinya, liner sedikit terbatas dengan water jaket.

Tapi tenang, cuy! Di tangan Suri, persoalan itu bisa diatasi. Suri? Iya, doi ini mekanik sekaligus pemilik bengkel Em-Push di Jl. Raya Meruya, Jakarta barat. Nah, Suri ini yang bikin Vario Kodok ‘lompat’! Gak ngorek lagi dong….

Bedah yuk!

PISTON 58,5 MM


Untuk dongkrak kapasitas silinder Vario ini, Kodok ogah tanggung. Makanya, doi push ke Suri biar capai limit. Yap! Pakai piston 58,5 mm milik Honda Sonic. Buat harian, ukuran ini sudah batas maksimal.

“Karena dengan ukuran ini aja, water jaket harus dibuat ulang lagi di tukang bubut,” ujar Kodok mewakili Suri berbicara. Maklum lagi! Kan liner standar Vario, kudu diganti lebih besar. Yaitu, pakai milik Honda GL yang sentuh angka 60 mm.

Setelah mengakali liner dan juga water jaket yang dialiri air radiator, piston pun ikut disesuaikan. Terutama, bagian dome alias permukaan atas piston. Dome dipapas lagi sekitar 2 mm. Kalau enggak dipapas, piston muncul keluar blok silinder.

Belum lagi, Suri juga menerapkan naik stroke di Vario biru metalik ini. Pakai pen stroke 3 mm merek Kawahara, pastinya langkah piston juga makin panjang. Akhirnya, semua berimbas ke head silinder. Meski kepala silinder nggak dipapas, tapi squish dibuat ulang menyesuaikan piston.

Kini stroke jadi 61 mm. Dipadu piston 58 mm sehingga menghasilkan kapasitas silinder lumayan. Bersihnya bisa mencapai 165 cc.

KNALPOT BOBOKAN

1255vario-dvd-3.jpgSaluran tenaga, kurang lengkap jika kagak didukung saluran buang yang baik. Dua kendala bisa muncul jika knalpot yang dipakai nggak pas. Pertama, tenaga ngempos akibat knalpot terlalu freeflow. Kedua, power tertahan akibat terlalu banyak sekat di dalam silincer.

“Di Vario ini, dibikin sendiri racikannya. Polanya, mengikuti konsep knalpot Kawahara,” aku Kodok. Ya! Semua sekat yang ada disaluran buang dilepaskan. Lalu chamber dibuat lagi pakai kawat yang sering disebut kawat nyamuk. Hasilnya, suara tidak terlalu berisik tapi tenaga terus isi.

DATA MODIFIKASI

Ban : Swallow 70/90-16
Pelek : Yamaha Nouvo Z
Cakram : TDR
Sok depan : Kawahara
Paking blok bawah : 6 mm

Suzuki Spin 125 2007 (Jakarta)

Takut Melintir!

1259spin-wahidin-dvd-1.jpgSering melakukan ubahan low rider di Yamaha Mio, Wahidin penasaran untuk melakukan style sama di Suzuki Spin 125. Untung ada Agus Mardiyanto dari Cipinang, Jakarta Timur yang merelakan Spin 125 miliknya diacak-acak modifikator asal Jawa Tengah itu. Fokus di sektor kaki-kaki.1260spin-wahidin-dvd-2.jpg

“Terbukti memang jauh lebih susah dibanding Mio atau Vario. Itu karena konstruksi engine mounting dan arm. Bentuk mounting Spin 125 seperti huruf U. Sehingga kalau dipaksakan pakai undur-undur model Mio atau Vario pasti enggak bisa. Ngeri melintir,” kata Wahidin juragan Anggrek Motor ini.

1261spin-wahidin-dvd-3.jpgKarena itulah, maka undur-undur yang dipasang punya desain atau model berbeda. “Antara batang yang dikanan dan kiri disambungkan pelat dengan ketebalan 4 mm,” cerita wong Tegal ini.

Akhirnya dengan konstruksi seperti itulah baru dirasa aman dan layak jalan. Oh ya, peranti yang menyebabkan roda belakang menjadi mundur ini mempunyai panjang 15 cm.

Hal lain yang sedikit bikin pusing adalah dalam penempatan monosok belakang. “Pasalnya enggak mau merusak banyak bagian sehingga jika ingin dibikin standar lagi enggak masalah,” lanjut ayah dua anak ini. 1262spin-wahidin-dvd-4.jpg

Karena itu dibuatkan banyak bracket atau dudukan baru buat untuk peredam kejut itu. Misal untuk pegangan atas. “Dibuatkan pipa ¾ inci yang disambungkan atau ditembuskan ke sasis. Kemudian dibaut pakai baut 12,” beber pria hitam manis ini.

1263spin-wahidin-dvd-5.jpgFrame memang menjadi sedikti cacat karena dilubangi. Tapi saat mau kembali tampil standar, enggak bakal banyak masalah. Begitu juga pegangan bawah. “Untuk itu bracket dipasangan di atas mesin atau persis di atas kipas,” kata Wahidin lebih jauh.

Material yang dipakai kali ini adalah pelat 4 mm. Untuk sok sendiri menggunakan punya Jupiter MX. Alasannya, dimensi dan tingkat kekerasan sesuai yang membuatnya memilih ini.

Di soal pemilihan monosok, Wahidin sedikit kasih tips. “Karena beban akibat roda belakang sudah berubah dan bisa dibilang sangat berat, maka jangan pilih yang terlalu keras, ngeri,” pesan Wahidin dari markasnya di Batas Kreo, Ciledug, Tangerang.

KNALPOTNYA MANA?1264spin-wahidin-dvd-6.jpg

Saat melihat penampilan utuh motor ini pasti pada bingung cari posisi knalpot. “Biar penasaran, memang sengaja dibuat ngumpet,” kekeh Wahidin.

Jelas, bukan semata karena itu, lebih pada estetika dan kenyamanan berkendara. “Kalau ditempatkan di samping akan menutupi kesan ekstrem pelek. Sementara kalau undertail, pastinya jadi sering mentok bodi,” ulas pria yang lagi kebanjiran order ini.

Kedua posisi tadi memang sempat dicoba dan terbukti kurang sip.

SKYWAVE SIPIT

Maksud hati pengin bikin Spin 125 ini jadi belo alias tidak sipit lagi. Makanya, pakai head lamp Skywave 125. Tapi akibat salah di soal pemilihan desain bodi depan, niat tadi jadi berantakan. “Ya begitu deh karena salah desain depan, sehingga malah jadi sipit gini,” aku Wahidin malu-malu.

DATA MODIFIKASI

Ban depan : Deli Tire 120/70-14
Ban belakang : Deli Tire 140/60-14
Pelek depan : 4x14 inci
Pelek belakang : 6x14 inci
Sok depan : Trusty
Sok belakang : Jupiter MX
Disc depan : MyBug
Disc belakang : Kawasaki Ninja
Setang : Suzuki RGR
Head lamp : Suzuki Skywave

Suzuki Skywave 125 2007 (Jakarta)

Cuma Buat ke Kampus 196 CC

1381skywave-dvd-1.jpgDasar pembalap! Meski jarak dari rumah ke kampus tidak terlalu jauh, tapi tetap ogah pakai motor bermesin standar. Itulah yang dilakukan Febrianto pada Suzuki Skywave 125 miliknya. Oh ya, doi ini salah satu pembalap road race DKI yang tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.1383skywave-dvd-3.jpg

“Enggak tahu, kayaknya enggak betah aja pake motor standar. Rasanya seperti ada yang kurang, githu,” ungkap pemuda yang kuliah di Universitas Jayabaya, Pulomas, Jakarta Timur ini.

Tuh kan! Padahal dihitung-hitung, jarak dari rumah ke kampus nggak lebih dari 3 1382skywave-dvd-2.jpgkilometer lho. Tapi lagi-lagi, dasar pembalap! He..he..he... Malah, Skywave 125 ini juga sudah dijejali piston Honda Tiger oversize 50 lho.

Begitunya doi nggak tergiur balap jalanan. Pria akrab disapa Eby ini mengkhususkan Skywave 125 ini hanya untuk aktivitas ke kampus. Penasaran sejauh mana Mahasiswa jurusan Manajemen Perusahaan ini meng-upgrade skubeknya? Ya dibaca terus dong!

Lanjut!

KLEP XENIA


Sabar... Ini bukan merek klep baru! Tapi Xenia itu nama mobil keluaran Daihatsu. Iya, Daihatsu Xenia yang kembaran sama Toyota Avanza. Nah, klep yang sekarang dipakai buat Skywave 125 ini milik mobil itu. “Ukuran pakai 28 mm untuk klep in dan 24 mm klep buang,” ujar Eby yang baru merayakan ulthanya di bulan ini. 1384skywave-dvd-4.jpg

Enaknya pakai klep ini, tentu soal meterial lebih kuat. Malah, nggak perlu banyak merubah ukuran klep. Itu karena diameter batangnya sama dengan batang klep Skywave 125 yang 5 mm. “Yang disesuaikan hanya bagian panjang klep aja. Ukuran disesuaikan panjang klep standar,” bilang Eby lagi.

Masih bicara seputar kepala silinder. Biar kompresi sedikit lebih tinggi, head pun dipapas lagi 1 mm. Menurut sang empunya, sengaja papasan dibuat segitu biar tidak terlalu tinggi. Kalau ketinggian, kasihan dinamo stater.

STROKE X PISTON

Penggantian dua komponen ini, bisa dibilang pendongkrak tenaga paling yahud. Macam obat kuat saja! Sekali pasang, tenaga tambah besar. Apalagi, Skywave 125 ini dijejali piston Honda Tiger oversize 50 alias 64 mm.

“Untuk pakai piston ini, liner standar diganti punya Tiger. Kan aslinya Skywave 125 hanya pakai piston 53,5 mm. Hasilnya, power di putaran atasnya makin jalan,” kata Eby yang rambutnya dipotong habis alias botak.

Enggak cukup sampai situ, stroke pun ikut dinaikan. Metode stroke-up lewat pemakaian pen dijalankan. Pakai merek CLD ukuran 3 mm, langkah piston kini bertambah jadi 6 mm. Kan naik 3 mm, turun 3 mm. Angka akhir stroke pun berubah. Dari yang standarnya 55,2 mm sekarang jadi 61,2 mm.

Akhirnya, lewat dua penggantian part ini, kapasitas silinder skubek bersuspensi belakang ganda ini menjadi 196 cc. Wah, bengkak dong!

INTAKE LANGSUNG

1385skywave-dvd-5.jpgAslinya, Skywave 125 mengaplikasi intake model tambahan. Ya, biar moncong karburator menjadi ke belakang. Nah, di skubek milik pria 24 tahun ini, intake itu dicopot. Gantinya, pakai model langsung ke blok.

“Pakai cara ini, bensin langsung masuk ruang bakar. Enggak berputar lagi melewati intake tambahan,” urai Eby. Caranya, lubang intake yang di blok dicor lagi pakai aluminium. Prosesnya kudu dilakukan di tukang bubut. Konsekuensi pakai cara ini, bagasi jadi korban.


LEBIH DARI 140 KM/JAM


Ngomong soal kecepatan! Sayangnya di Skywave 125 ini, spidometer tidak lagi dipakai. Itu karena pelek mengadopsi tipe jari-jari. Kondisi itu, memaksa teromol depan pakai milik Suzuki Satria. Nah, gir spido pun jadi tidak bisa difungsikan.

“Tapi pernah coba ukur pakai Yamaha Nouvo bore up. Ketika dia lari 140 km/jam, motor ini masih terus melaju dan jauh ninggalin,” ungkap pembalap yang sekarang lagi menunggu sponsor datang.

Wah, kalau gitu lebih dong dari 140 km/jam dong? Bisa!

DATA MODIFIKASI

Ban depan : Comet 60/90-17
Ban belakang : Mizzle 2,25-17
Pelek : Takasago 1,20x17
Karburator : Keihin PE 28 mm
CDI : BRT i-Max
Roller : 13 gram
Pen stroke : CLD 3 mm

Suzuki Skywave 125 2008 (Jakarta)

206 cc Sikat 95 Km

1467sky-wave---endro-1.jpgSemoga nggak bingung sama angka di judul itu? Kalau iya begini penjelasannya. Skywave 125 milik Enrico ini sudah naik kapasitas mesin jadi 206 cc. Angka 95 km jarak tempuh yang dilewati setiap hari kerja. Tepatnya dari rumah di Pondok Labu, Jakarta Selatan dan kantor di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

“Enak banget pakai motor bore up untuk jarak jauh. Selain lebih kencang, juga nggak boros,” cerita Rico. Memang motor ini belum pernah diukur kecepatannya di trek pendek, tapi sang pemilik yakin banget akselerasi dan top-speed sudah jauh meningkat.1470sky-wave---endro-4.jpg

Karena menjadi motor harian, konsekuensinya harus dirawat melebihi motor standar. “Ganti oli tiap dua minggu, cukup pakai yang SAE 10W-40,” beber karyawan Garuda ini.

Daripada ngelantur, mari kita tengok apa yang dilakukannya sehingga kapasitas meningkat begitu besar.

BORE X STROKE

1468sky-wave---endro-2.jpgDari mana angka 206 cc tadi? “Itu karena pakai piston ukuran 63,5 mm dari Honda Tiger,” katanya memulai cerita jeroan mesin. Kalau penggantian ini sih emang sudah banyak yang pakai, trus apalagi nih?

“Nekat nih, naik stroke cukup jauh,” bangganya. Untuk setang piston pakai merek LHK. Stroke up dilakukan setelah pakai produk Kawahara 5 mm. Langkah piston artinya naik 10 karena naik 5, turun 5. Dari awalnya 55,2 mm naik drastis menjadi 65,2 mm. Coba deh dihitung, sekarang menjadi 206 kan?

LEHER KNALPOT CUSTOM1469sky-wave---endro-3.jpg

Hal lain yang diyakini Rico membuat motornya enak buat seliweran di Jakarta ada pada saluran buang. “Sengaja dicustom ulang khususnya di bagian leher supaya tenaga lebih berasa,” kata anggota SOC (Skywave Owner Club) nomor 052 ini.

Sedang pada bagian tabung masih mengandalkan orisinal. “Memang tampilan motor dipertahankan standar, pelek dan ban juga masih bawaan,” celetuk penggemar anjing ini.

PER CVT VARIO

Karena mengejar akselerasi di jalanan, Rico butuh per CVT sensitif. “Ogah pakai variasi, setelah uji coba paling sip pakai standar Honda Vario,” kata pria yang rajin kopdar di komunitasnya.

Ubahan di sektor penggerak roda baru sebatas itu. Bagian lain bahkan sampai roller pun masih parts orisinal Skywave.

DATA MODIFIKASI

Piston : 63,5 (Tiger)
Setang piston : LHK
Pen stroke : Kawahara
Klep : TK (32,5/28)
Kem : Kawahara
CDI : BRT
Karburator : Keihin PE 28
Per CVT : Honda Vario
Disc depan : PSM

Yamaha Nouvo 2003 (Jakarta)

Indonesia Raya Berkumandang

1518nouvo-50-dvd-1.jpgSeandainya SEA Games melombakan drag liaran, bisa jadi Indonesia menggondol medali emas dengan menurunkan Yamaha Nouvo ini. Skubek ini baru aja mengalahkan rivalnya yang full spek Thailand. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang di kerumunan massa Matraman, Jakarta Timur.1519nouvo-50-dvd-2.jpg

“Kaget juga sih bisa menang. Terlebih lawan pakai full Thailand, rangka aja aluminium,” kata Deny Mansur, mekanik Clinic Motor yang menggarap Nouvo ini. Pasar taruhan malam itu disinyalir sampai di angka Rp 73 juta. Malam yang benar-benar heboh.

Konon lawan Nouvo ini Yamaha Mio buatan Thailand. Dari kubu CMS (Champion Motor Sport). CMS dikenal sebagai biang balap road race dari zaman 2-tak dulu. Kini lebih suka main drag bike alias balap lurus aje.

Banyak hal sebenarnya yang membuat Nouvo Tanah Air bisa ngacir begitu kencang mengalahklan Mio Thai. “Performa mesin dan ratio yang pas menjadi penentu utama,” kata Komeng, panggilan akrab Deny.

Lebih sip kalau kita bongkar rahasainya. Mumpung mekanik satu ini nggak pelit ilmu, semua jeroan dijembrengin.

KONDISI MESIN


1520nouvo-50-dvd-3.jpgUntuk jeroan dapur pacu, Komeng menggunakan piston motor Kawasaki berukuran 66 mm. “Seher ini punya keunggulan karena pendek, sehingga mengurangi friksi, beda dengan piston Tiger,” kata lajang ini.

Ini jelas memberi efek mesin jadi tidak jadi gampang panas.

Sementara, kapasitas mesin sekarang sudah ada di kisaran 250 cc. “Hal itu karena naik stroke jadi 72,” terangnya. Hal itu artinya dia menaikkan langkah sekitar 16 mm karena aslinya stroke Nouvo 57,9 mm. Tambah 8 mm naik dan 8 mm turun.

Sedang untuk menghasilkan tenaga lebih mantaf lagi maka klep mobil ikut dijejalkan. Ukurannya 34/29 yang merupakan cabutan dari Toyota Camry. Oh ya menurut Komeng lagi, kompresi saat ini di 12 : 1.


RATIO DIBERATIN
1521nouvo-50-dvd-4.jpg

Karena akan main di trek panjang 800 meter, Komeng mengubah ratio menjadi lebih berat dibandingkan standar. Jika aslinya 12 : 43, maka sekarang menggunakan 12 : 25. “Ukuran segitu pas dengan tenaga dan trek di Jl. Matraman,” timpal Yonex, si pemilik motor yang ikut nimbrung.

Komeng juga berkeyakinan bhawa perhitungan di ratio itu juga mempengaruhi dalam pemilihan roda. “Karena itu saya pakai ring 17 inci dan ban cukup kecil,” lanjut pria yang baru buka bengkel tujuh bulan silam ini.

KNALPOT DIPOTONG

1522nouvo-50-dvd-5.jpgKomeng pakai knalpot Kawahara. Tapi, selain dipotong bagian ujung dan dalaman juga digulung ulang. “Itu supaya lebih cepat teriaknya. Kalau aslinya agak sedikit lama,” beber pemilik bengkel di Jl. Skuadron, No. 14, Halim, Jakarta Timur ini.

Dengan kondisi sekarang, maka akselerasi lebih cepat dirasa aatau bisa dibilang motor jadi lebih responsif. Pemotongan yang dilakukan hanya 5 cm di bagian ujung.


TANGKI CUSTOM
1523nouvo-50-dvd-6.jpg

Proses reduksi bobot juga dilakukan hingga tangki bahan bakar. “Bikin baru dengan menggunakan material aluminium dan kapasitasnya sedikit aja,” cerita Komeng yang bukan pelawak itu. Saat ini motor ini hanya bisa membawa BBM sebanyak 700 ml saja, nggak bisa lebih.

DATA MODIFIKASI


Ban depan : Swallow 50/90-17
Ban belakang : Vee Rubbber 50/100-17
Pelek : Ride It
Kompresi : 12 : 1
Setang piston : Yamaha RX-Z
Karburator : Keihin PE 28
Per klep : Jepang Product
Kampas kopling : Custom
Dinamo : Standar, gulung ulang
Intake : Yamaha Mio
Sok depan : Posh
Disc depan : TDR
Tangki : Custom aluminium

Yamaha Mio 2007 (Lamongan)

Eropa Style

1573mio-geba-gt-1.jpgSkubek yang katanya motor cewek itu memang sudah sering dimodif jadi jantan. Mulai dari gaya trail, low rider dan buaaanyak lagi. Tapi kadang tema atau konsep ubahan terlalu nyeleneh sehingga malah asing dilihat. Beda dengan karya terbaru dari Geba Leisure Parts (GLP), Bandung kali ini.

Mio yang katanya otomatis duluan itu terlihat jadi lebih lelaki. Motornya sendiri milik seorang pengusaha dari Lamongan, Jawa Timur. “Konsepnya mengarah ke Eropa Style, di sana kan banyak matik yang buat cowok,” kata Gerie Nur Mayurie, pimpinan GLP. 1574mio-geba-gt-2.jpg

Memang beberapa detail mengambil inspirasi dari Peugeot Ludix, skuter yang lagi popluer di Perancis sana. Misalnya, model head lamp dan bodi samping. Untuk itu, bodi Mio yang slim dibuat lebih endut. “Itu supaya gagah, sehingga nggak cewek banget lagi,” timpal Ardhi Kupret, jagoan desain dari GLP.

Urusan memperbesar bagian ini digarap detail. Coba lihat cover kipas magnet yang dibuat lebih besar mengikuti bentuk cover bodi. Sehingga antara keduanya menjadi sama-sama melebihi ukuran standar. Enggak hanya diperlebar, bodi belakang juga dibikin lebih pendek sehingga motor sekarang menjadi lebih semok.

1575mio-geba-gt-3.jpgPada bagian cover bodi juga dilakukan penambahan detail yang merupakan inovasi baru. Misalnya ada pipa krom di bodi samping kiri dan kanan. Terlihat menarik memang, tapi apa maksudnya ya?

“Kalau motor laki itu kan terlihat keren dengan deltabox. Nah, ini semacam rangka tipuan,” kekeh Gerie lagi sambil membahas frame palsunya ini.

Material frame palsu tadi menggunakan pipa 1½ inci dengan panjang 140 cm sebelum ditekuk. Cara pemasangannya menggunakan baut ke rangka asli. Hal itu untuk mempermudah proses bongkar pasang.1576mio-geba-gt-4.jpg

Tuntas masalah bentuk, tinggal finishing yang tentunya juga harus macho. “Makanya pakai cat doff, kalau terlalu kinclong malah berkesan girly nantinya,” lanjut pria yang baru mendapat bayi pertama ini.

Urusan kelir ini sepakat menggunakan merek Spies Hecker. Langkah awal seluruhnya dicat silver. Kemudian untuk bagian yang berkelir merah ditimpa cat candy red. Sedang penentuan berubah menjadi dof atau kusam itu adalah dalam pemilihan pernis. Menggunakan tipe khusus yang bisa menimbulkan efek itu.

“Secara efek motor menjadi lebih serem tapi kelemahannya saat hujan atau terkena air, bodi tampak belang antara yang basah dan enggak,” aku Gerie jujur. Artinya antiair dong!

CUSTOM SETANG X1R

Untuk urusan kemudi, Gerie kepincut menggunakan komponen dari Yamaha X1R. Sudah jamak memang. Desain yang gagah menimbulkan kesan kokoh, begitu sempat diutarakannya.

Tapi taunya, posisinya nggak pas dengan bodi dan riding position di Mio ini sekarang. “Makanya dicustom pada bagian batangnya dengan penambahan aluminium baru setinggi 8 cm,” kata Gerie.

Dengan bentuk dan desain baru ini, posisi tangan jadi lebih enak. Terutama saat bekendara. Posisi kemiringan juga bisa diubah-ubah.

GADGET HI-TECH

1577mio-geba-gt-5.jpgNamanya juga bergaya Eropa modern, pastinya butuh peranti atau gadget high end. Karena itu, skubek ini juga diinstalkan GPS dan IPod Video yang berkemampuan hingga 80 gigabyte. Untuk suara disambungkan ke speaker tabung Haltech yang dipasang di atas dek.

“Posisinya dibuat enggak mengganggu kenyaman kaki pengendara, setidaknya si pemilik motornya. Kita sudah ukur semua,” beber Ardhi Kupret yang kakak kandung vokalis grup band Cangcuters itu.

DATA MODIFIKASI

Ban depan : Deli Tire 120/60-14
Ban belakang : Deli Tire 140/60-14
Pelek depan : Custom 5x14 inci
Pelek belakang : Custom 6x14 inci
Sok depan : Posh
Sok belakang : YSS Classic
Knalpot : Koso
Lampu depan : Aftermarket Taiwan
Sein : Honda CT 70
Visor : Geba Leisure Part

Yamaha Mio Sporty 2008 (Jakarta)

221,5 cc Rasa Standar

1606mio-balap-dvd-1.jpgJangan lihat tampang ya! Tapi rasakan performanya! Itu sedikit saran, kalau ketemu Mio kelir hitam yang masih aplikasi stiker bawaan pabrik ini. Apalagi kalau ketemunya malam hari di lintasan Karet, Petamburan, Jakarta Pusat. Berani terima tantangan asal masih pakai karburator dan knalpot standar.

Oleh R-Gus, sang pemilik, power skubek itu dibuat gahar. “Yah, sedikit bore up dan naik stroke aja kok,” ujar R-Gus yang juga pemilik R-59 Racing dari Jl. Dewi Sartika, No. 32, Ciputat, Tangerang. Nah lho, sedikitnya bagaimana nih? Kalau belum dibongkar sulit dipercaya dong akh!

Mantapnya, pria yang juga pembalap road race ini bersedia buka-bukaan. Motor boleh dibedah sesuka hati. Termasuk, kasih tahu soal jeroan dalam dan seputar rumah CVT. Mau tahu lebih? Yuk, buka bersama.

Ini dia!

PISTON TIGER1608mio-balap-eka-2.jpg

Buat menggarap mesin, R-Gus tidak mau banyak bicara. Iyalah, kalau bicara terus, bongkar mesinnya gak kelar. Apalagi ketika sesi pemotretan dia sedang di Aceh. Balap? Bukan, ding! Mempersiapkan akad nikah dengan Lia Rivayanti yang asli Nangroe Aceh Darussalam (NAD) itu.

Makanya untuk urusan mesin Gus yang jangan pakai Dur serahkan semua ke A Cun dan Anggi sebagai mekanik. Nah, mereka berdua ini yang bakal buka rahasia skubek andalan R-59 racing. Semuanya, dikupas tuntas.

Untuk memperbesar kapasitas mesin, piston milik Honda Tiger oversize 100 dipakai. Kini, blok Mio standar yang sudah ganti booring pun kudu menelan piston diameter 64,5 mm.

Belum cukup sampai situ, langkah piston juga ikut disentuh. Kali ini, piston dibuat melangkah 10 mm lebih jauh dari standar yang cuma 57,9 mm. “Itu karena pakai pen stroke Kawahara ukuran 5 mm. Naik-turun jadi 10 mm,” kompak dua mekanik ramah ini.

Nah, dihitung ulang yuk! Pastinya isi silinder bakal lebih dari 200 cc. Percaya kan? Mari, kita hitung bareng ya. 3,14x 67,9 mm x 64,5² mm/4 = 221,5 cc. So, di atas 200 cc kan. He..he..he...

KLEP EE


1609mio-balap-eka-4.jpgEit, jangan punya konotasi yang jorok dulu. Klep EE di sini, karena mereknya ya cuma dua huruf itu. Jadi, bukan lagi buang air besar ya. Tapi, ngomong soal besar, ya! Maksudnya, kedua klep ini punya ukuran bisa dibilang gitu.

“Untuk klep isapnya, diameter 31 mm. Sedang klep buang, 25,5 mm,” ungkap A Cun. Pakai klep ini, cuma lakukan penyesuaian di sitting dan sudut klep. Karena batang klep punya diameter sama dengan klep standar. Yaitu 5 mm. “Memang diameter batang sama. Tapi, klep ini punya bahan lebih kuat,” timpal Anggi.

Buat iringi klep mengisap dan juga membuang sisa pembakaran, noken as alias kem milik Kawahara tipe Racing Only dibuat berbeda durasi. Untuk klep isap, dipatok angka 31º + 59º + 180º = 270º. Sedang klep buang dipatok durasi di angka 29º + 48º + 180º = 257º.

SETING 700 METER1607mio-balap-dvd-3.jpg

R-Gus mau skubeknya sanggup diajak berlari untuk jarak 700 meter. Maka itu, seting di seputar rumah CVT juga ikut dihitung ulang. “Pakai rasio agak berat. Ya, pakai rasio Kawahara 15/40. Gitu juga roller, pakai merek sama dengan berat 13 gram,” buka A Cun.

Enggak ketinggalan, rumah puli alias rumah roller juga aplikasi merek sama. Dengan kombinasi ini, power pun makin teriak ketika sentuh rpm 8.000. “Yang diunggulin di power atas. Ketika motor lari 400 meter, mesin makin cepat teriak,” tambah Anggi.

DATA MODIFIKASI

Ban : IRC 50/100-17
Pelek : Exel 1,20-17
Cakram : Variasi
Sok depan : Kawahara
Sok belakang : Trusty
Koil : Yamaha YZ125
CDI : BRT Neo Dual Band

Honda Vario 2006 (Sumedang)

X-Treem Knock Down

1689vario-sumedang-dvd-1.jpgSelama ini modifikasi low rider dibuat dengan cara memundurkan roda belakang dan diikuti menggeser mesin. Berbeda dengan rumah modifikasi SS Custom from Sumedang Jawa Barat. Untuk memundurkan roda belakang, dibuatkan arm baru. “Artinya mundur dengan posisi mesin yang masih di tempatnya,” kata Deden Darmawan, sang modifikator.1690vario-sumedang-dvd-2.jpg

“Konsepnya sih memang ekstrem, tapi menganut paham knock down alias sistem bongkar-pasang. Jika mau dibuat standar lagi tinggal lepas lengan ayun,” kata Deden yang asli Kota Tahu itu. Tapi bukan seperti MOTOR Plus yang Lebih Tahu dan Tahu Lebih.

Jadi, meski mengusung modifikasi knock down sudah bisa ikut contezt di kelas x-treem. Tapi memang knock down yang dilakukan nggak main-main. Misalnya swing-arm tambahan tadi dibuat dari pipa kotak ukuran 4x6 cm dengan ketebalan 3 mm.

1692vario-sumedang-dvd-4.jpgKarena mundurnya cukup jauh, sekitar 50 cm, maka sistem penggerak roda sekarang dibantu gir dan rantai. “Meskipun begitu, sistem CVT tetap dipertahankan dan nggak dirusak sama sekali,” lanjut pria bertubuh kurus ini. Kombinasi gir yang dipilih antara depan dan belakang adalah 1 : 1.

“Cara kerja gir depan tetap berhubungan dengan as roda asli dan disambungkan oleh adaptor,” kata ayah dua anak ini. Adaptor dibuat dari besi yang mempunyai ketebalan 16 cm. Cukup tebal memang, itu untuk mengejar posisi center antara depan dan belakang.

Nah agar roda belakang bisa mutar, maka digunakan rantai di antara gir tadi. Pilihan yang dilakukan Deden cukup unik karena dia mengambil dari rantai keteng mobil Mitsubishi L300. “Rantainya dobel, sehingga lebih kuat dari standar motor,” ungkapnya lebih jauh. 1693vario-sumedang-dvd-5.jpg

Pada bagian sekitar arm dan gir depan juga ditempatkan disc brake. “Itu berfungsi lho, malahan untuk belakang pakai dobel cakram dan teromol,” lanjut pria 35 tahun ini. Cara kerja tetap dengan satu handel dan master rem ditempatkan di bawah dek sehingga tertutup.

Bukan hanya sistem gerak roda belakang yang knock down. Bentuk bodi yang sudah ekstrem pun begitu. “Pasti nggak nyangka. Padahal itu masih menggunakan rangka asli tanpa ada yang dipotong,” kekeh Deden.

KOMBINASI MOTOR–MOBIL


1691vario-sumedang-dvd-3.jpgUntuk urusan pelek, Deden bikin inovasi gabungan antara pelek motor dan mobil. “Untuk ring pakai Toyota Avanza. Sementara palang pakai punya variasi Jupiter-Z,” ungkap juragan bengkel di Jl. Geushan Ulun, No. 142, Sumedang, Jawa Barat ini.

Kedua bagian itu bisa dibongkar pasang. “Jadi termasuk pelek two pieces dan disatukan dengan sistem baut,” cerita Deden lebih jauh.

Semuanya memang diset knock-down.



DATA MODIFIKASI


Ban depan : Bridgestone 165/70-14
Ban belakang : Vredestein 175/65-14
Pelek depan : Custom 4,5x14 inci
Pelek belakang : Custom 5,5x14 inci
Sok depan : LHK
Disc brake : Standar Vario
Filter : Koso
Knalpot : Supertrap

Honda BeAT 2009 (Jakarta)

Salah Seting Kompresi

1787beat-dvd-1.jpgHeru Yulianto termasuk nekat yang bukan berarti nenek diangkat. Untuk tempur di ajang Pertamax Plus BRT Indotire Matic Race & Party kelas bore up 150 pemula, mengandalkan Honda BeAT. Lumayan jadi perhatian lantaran mampu menyodok di barisan depan.

BeAT nekat ini racikan Heri ‘Coker’ dari CXM di Jl. Al-Mujahidin, Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang. Katanya Coker mempersiapkan Honda BeAT ini cuma punya waktu kurang dari seminggu. Akhirnya, doi lupa kalau regulasi yang ada mengharuskan pakai bahan bakar Pertamax Plus.1788beat-eka-02.jpg

“Iya, tak tahu kalau harus pakai Pertamax Plus. Padahal, setingan BeAT ini mengacu pakai Bensol,” kata mekanik 30 tahun ini. Pakai setingan Bensol, maka kompresi pun berada di angka 13,8 : 1.

Angka ini, hasil dari pemakaian piston Izumi diameter 54,4 mm. Yap! Piston yang sama dipakai untuk Honda Blade 110R. Mantapnya, piston ini sudah aplikasi tipe high-dome.

1789beat-eka-03.jpgBegitunya dome tetap dipertahankan dengan ketinggian 2 mm. Tapi tentunya, bagian permukaan sedikit digerus menyesuaikan bentuk payung klep yang masih standar. Tapi sayang, piston ini membuat boring menjadi tipis.

“Liner sisa 1 mm. SengajaSengaja gak ganti boring, soalnya waktunya mepet. Belum lagi untuk inreyen,” ungkap Coker yang punya senyum dan tawa macam anak kecil ini. Belum lagi kepala silinder pun ikut dipapas sekitar 0,4 mm.

Tapi dengan ubahan ini, BeAT pacuan Heru tetap mampu merangsek ke posisi GTdepan. “Sebenarnya ketika 5 lap, BeAT ini sudah cukup ngelitik. Tinggal pintar-pintarnya joki aja bisa finish ketiga,” tambah Coker lagi.

KARBU 24 MM

Maksud hati memeluk gunung, tapi apa daya tangan tak sampai. Mungkin itu ungkapan yang bisa diberikan untuk Honda BeAT yang aslinya milik cewek yang bernama Natalia ini. Niatnya, Coker ingin menjejalkan karbu alias karburator venturi 28 mm. Tapi sayang, niatan itu terkendala oleh bentuk intake BeAT itu sendiri.

“Pakai karbu 28 mm, mentok karet intake. Itu karena intake BeAT pendek. Makanya, akhirnya diputuskan pakai karbu Keihin PE 24 mm yang bentuknya lebih kecil dari karburator 28 mm,” kata Coker. Sip!

PASRAH MENIKMATI


Punya pacar hobi kecepatan, membuat Glory Natalia pasrah sama kemauan Panky Elvis Franky. Tapi untungnya, hobi kekasihnya pun tetap bisa dinikmati dirinya. Jadi, pasrah menikmati deh. He…he…he…. Makanya Natalia pun merelakan Honda BeAT miliknya, dipakai buat balap matik di Sirkuit Sentul Kecil, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Awalnya sih modal nekat aja! Soalnya hampir semua lawan yang ada pakai Yamaha Mio,” ungkap Panky Elvis Franky mewakili Natalia berbicara. Ya! Apalagi, belum banyak part racing buat BeAT dijual di pasaran.

Tapi, dengan bermodal nekat akhirnya BeAT yang cewek banget ini digeber Heru Yulianto. Untuk seri 2 masih boleh dipake lagi nggak ya sama Natalia.

DATA MODIFIKASI

Ban : Indotire 80/90-14
CDI : BRT
Karburator : Keihin PE 24 MM
Main/pilot-jet : 125/ 60
Roller : Kombinasi 7 dan 10 gram